Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 24 Februari 2017

DESA YANG KASIHAN DI PACITAN

Tempatnya sunyi, sejuk dan nyaman untuk hari tua. Tapi butuh pengorbanan besar untuk sampai ke tempat bernama Desa Wonoanti.

Tahun 2013 saya ke Desa Wonoanti dalam rangka monitoring program desa vokasi bersama UPT Sanggar Kegiatan Belajar Kabupaten Pacitan. Sebenarnya ada dua rute jalan yang bisa dilalui menuju desa ini. Rute pertama melewati Mentoro. Jalurnya naik gunung dengan jarak yang panjang. Sama-sama melewati gunung, rute kedua melalui Singgahan tapi rutenya lebih pendek. Akhirnya saya memilih rute yang lebih pendek bersama teman-teman saya.
Tuh kan, Mending Muka Saya Daripada Jalannya

Ternyata kata pendek dan panjang tadi sebenarnya memiliki ekor yang belum di sampaikan. Jalan pendek yang saya lewati ternyata harus naik turun bukit yang berkelok-kelok dan curam. Mana saya boncengin teman saya yang agak gendut pula. Haduh, ya Tuhan, selamatkan hidup saya.

Tuhan memang menyelamatkan hidup saya, tapi dijalan yang menanjak ternyata roda sepeda yang saya kendarai selip. Jatuhlah saya bersama teman saya itu. Untung saja dibantu oleh warga sekitar yang kebetulan lewat. Wah, baik sekali orang-orang itu.

Setelah sampai di pintu gerbang desa, ternyata jalan masuk ke desa masih cukup jauh. Dan kamu tahu bagaimana kondisi jalannya? Ya salam, masih mendingan muka saya yang banyak jerawatnya ini bro. Padahal ini kabupaten salah satu presiden kita lho bro.

Itu anak-anak pingin saya bawa pulang saja bro....
Teman saya yang agak gendut itu saja sampai pegangan erat banget ke tubuh saya karena takut jatuh. Untung saya ini anak baik-baik, jadi tidak sempat memikirkan hal yang aneh-aneh. Hehehe…

Tapi semua itu terbayar saat sampai di tempat tujuan. Kami langsung disuguhin kopi khas pegunungan, kelapa muda, getuk, nasi tiwul, ah, pokoknya kenyanglah waktu itu.

Desa Wonoanti merupakan desa vokasi yang dikembangkan oleh UPT SKB Kabupaten Pacitan. Di desa tersebut ada dua kegiatan keterampilan dan wirausaha yang dikembangkan. Ada ternak dan pengolahan ikan. Kemudian ada juga budidaya tanaman obat dan pengolahan menjadi pangan yang menarik.

UPT SKB Kabupaten Pacitan Memberikan Peralatan Untuk Usaha
Ya ampun saya sampai kenyang disuguhi beraneka ragam olahan ikan dan jahe disana. Dan yang saya paling suka adalah gula jahe. 

Sebenarnya saya ingin menginap disana semalam. Ingin merasakan suasana desa dikelilingi bukit-bukit di malam hari (asal jangan ada dedemit yang muncul saja). Tapi karena tugas masih menumpuk jadi saya menggurungkan niat saya itu.

Pas pulang saya pengen nangis. Bagaimana nggak pengen nangis, wong mereka itu titip pesan kepada Gubernur Jawa Timur supaya jalan desa diaspal dan mereka dikasih bantuan berupa kendaraan dan akses promosi produk. 
Kalau Lagi Hujan Jalannya Bisa Lebih Parah

“Lha kalau gini terus gimana kita bisa maju mas. Kendaraan nggak ada, mau promosi bingung kemana, jalannya juga mas tahu sendiri seperti apa,” salah satu anggota kelompok budidaya jahe menerangkan kepada kami.

Saya sebenarnya agak sewot, lha dikiranya kami ini anaknya gubernur apa bisa dititipi pesan seperti itu. Tapi saya maklum, mungkin mereka juga punya keinginan untuk merubah nasib mereka, berhubung ada orang dari kota (maksudnya kami) mereka jadi curcol begitu.

Yah, begitulah Desa Wonoanti. Indah dan penuh potensi. Tapi dikekang oleh kondisi. #Asik

NB : Semoga saat ini kondisi di sana sudah jauh lebih baik. Amin....

Rabu, 15 Februari 2017

BUTEK, TAPI KOK BANYAK BULENYA YAH


Air terjun di Bali bukan hanya Git Git Waterfall. Kalau kamu sedang di Gianyar coba mampir saja ke Air Terjun Tegenungan. Dijamin bakal ketagihan.

Bikin Pengen Nyemplung
Saya ke sana masih dengan Windi. Lokasinya cukup jauh dari jalan utama. Jangan drop dulu. Diperjalanan kamu bisa melihat pemandangan sawah yang cantik dan berundak-undak. Bagus banget. 

Waktu saya ke sana masuknya gratis. Hanya cukup bayar parkiran saja, itupun cuma Rp 2.000,-. Awalnya saya sudah positif saja di sepanjang perjalanan. Saya pikir air terjun di Bali itu hal yang unik dan wajib didatangi. Secara ya bro, di Bali itu sudah umum dengan pantainya. Makannya saya tertarik banget waktu Windi menyodorkan kepada saya Air Terjun Tegenungan sebagai alternatif tempat buat dikunjungi.

Ternyata eh ternyata, setelah sampai saya drop banget bro. Soalnya itu air terjun agak jauh dari parkiran. Mana harus turunin tangga pula. Ya salam, semoga ambeien saya kagak kambuh habis naik turun tangga. 
Narsis Dikit Boleh Lah....

Air Terjun Tegenungan ini sebenarnya sungai gitu, Sungai itu lalu jatuh melewati tebing setinggi kurang lebih 10 meter. Jadilah air terjun (eh, bukannya semua air terjun juga begitu yah). Tapi ya dinikmatin saja lah. Cuma bedanya, air terjun Tegenungan ini lebar banget. Terus ada pemandian khusus dan tempat ibadah warga sekitar. Kalau mau ke air terjunnya mesti menyusuri pingiran kali yang waktu itu sedang becek.

Waktu saya datang airnya juga lagi butek (keruh) banget. Seperti air sungai kalau banjir, memang waktu itu sedang musim hujan, mungkin kalau saya datang pas musim kemarau airnya tidak akan sebutek waktu itu. Bisa jadi lebih bagus.

Untungnya sebelum tangga menurun menuju air terjun ada area peristirahatan yang cukup nyaman. Kedai dan gazebo berkeleleran disitu. Saya pribadi lebih seneng duduk-duduk santai disitu sambil memandang air terjun dan areal persawahan dari atas. Lebih indah dan menyegarkan mata. Maklum saya ini agak malas kalau kalau harus naik turun tangga begitu. Hehehe…

Ini ambil foto sambil selonjoran
Herannya, meskipun tempatnya seperti itu, bule-bule banyak juga tuh yang berkunjung. Waktu di tangga saja saya sampai pegel balas sapaan bule-bule yang pada lewat. Di tempat peristirahatan juga banyak bule-bule berwajah oriental. Ternyata eh ternyata, dulu Air Terjun Tegenungan tidak seramai itu. Sepi. Tapi, gara-gara banyak pasangan muda mudi yang sering foto selfie, terus calon pengantin yang foto prewedding disitu, jadi Air Terjun Tegenungan ramai dikunjungi orang. Iya, pas saya datang saja ada sepasang calon pengantin yang sedang foto prewedding. Niat banget pula prewedding-nya, bawa bakul dan selendang segala. Para pemuda banjar setempat juga sering promoin air terjun itu. Makannya makin lama makin ramai. 

Kalau begitu, entar kalau mau nikah saya mau prewedding di Air Terjun Dlundung saja ah, biar terkenal, kan enak entar Mojokerto banyak bulenya. Hehehe.


NB : Air terjun ini pernah diliput acara traveling di televisi swasta yang presenternya ganteng-ganteng dan cantik-cantik itu lho

Rabu, 08 Februari 2017

PERKENALKAN, INILAH DESA VOKASI


Desa vokasi bukan barang baru. Sejak dulu sudah ada. Tapi belum banyak orang yang tahu memang.

Waktu seorang teman bertanya tentang kegiatan PPL (Program Pengamalan Lapangan) di Pacitan, saya jawab kalau tugasnya adalah monitoring ke berbagai tempat, salah satunya desa vokasi. Lha dalah kok dia malah bingung, “Apa? Desa vokasi? Desa wisata mungkin,” hadeh, yang PPL siapa, kok yang ngeyel itu dia.

Desa vokasi berbeda dengan desa wisata. Tapi tidak dapat dipungkiri beberapa desa vokasi dijadikan sebagai tempat wisata.

Pembuatan Dupa di Desa Vokasi Bukianm, Gianyar
Saya bingung menjelaskannya secara rinci. Terlalu akademis, tapi ringkasnya seperti ini: di desa vokasi itu ada berbagai kegiatan pembelajaran dan kursus. Dari pembelajaran dan kursus itu nanti orang-orang mengembangkan berbagai kegiatan wirausaha, ada yang individu ada yang kelompok. Tujuannya sih untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang “dianggap” tidak sejahtera atau miskin.

Pembelajaran dan kursusnya macam-macam. Waktu saya ke Ungaran, tepatnya di Desa Gemawang, kegiatan pembelajarannya dan kursusnya membatik, budidaya lebah madu dan satunya lagi saya lupa. Di desa itu ada koperasi yang khusus menampung hasil wirausaha masyarakat. Eh, jangan salah, selain kegiatan pembelajaran dan kursus, di Gemawang ada perpustakaan publik, kursus bahasa inggris dan sinyal wifi yang lancar abis.

Waktu jalan-jalan keliling desa ditemani oleh pak lurahnya yang heboh dan gaul, padahal beliau sudah tua lho bro.

Ada juga desa vokasi di Gianyar, Bali. Tepatnya di desa Bukian, Kecamatan Payangan. Desa vokasi ini merupakan desa vokasi binaan UPTD BPKB Provinsi Bali. Di desa ini beda lagi, kegiatan pembelajaran dan kursusnya membuat dupa, kerajinan patung kayu dan pembuatan jajan pasar. Desanya asri sekali. Dikelilingi kawasan hutan yang teduh.

Waktu monitoring ke tempat ini saya sampai kenyang karena disuguhi berbagai jajan pasar seperti kelepon, kue mirip donat yang saya tidak tahu namanya juga kopi yang aromanya luar biasa sedap.

Kata teman saya yang pernah PPL di SKB Malang, di sana juga ada. Tempatnya di Desa Pujon. Kalau di malang pembelajaran dan kursusnya pembuatan pupuk kompos, pengolahan susu dan perkebunan buah-buahan terutama stroberi.

Pokoknya kursus dan pembelajarannya disesuaikan dengan kondisi desanya.

Berkunjung ke desa vokasi semacam itu sebenarnya asik juga. Tidak akan pernah ditolak oleh warganya. Justru mereka akan sangat senang, karena sekaligus promosi potensi desanya.

Bikin Laper
Kita bisa menginap semalam, malam hari menikmati kehangatan bersama warga desa. Pagi keliling desa sambil berharap dapat makan gratisan plus ditaksir gadis kampung yang cantiknya alami (hehehe…) dan agak siang sedikit bisa belanja.

Enaknya belanja di desa vokasi itu lebih murah. Karena kebanyakan desa vokasi merupakan sentra pembuatan kerajinan. Itung-itung kita bisa menengok cara pembuatan berbagai kerajinan dan makanan yang sering kita beli di tempat wisata.

Tapi hati-hati, tidak semua desa vokasi enak buat dikunjungi. Ada beberapa desa vokasi yang bisa dibilang kurang terurus. Kegiatan ada, kursus ada, pembelajaran juga ada. Tapi setelah itu bubar barisan, tidak ada kegiatan lanjutan. Jadi ketika berkunjung yang tidak ada apa-apa disana. Banyak sebab sih kenapa hal itu terjadi. Tapi tidak usahlah disebutkan disini. Nanti bisa berabe... Hahahaha

Agar tidak kecele seperti itu lebih baiknya tanya ke lembaga khusus yang menangani pendidikan non formal seperti BPPAUDNI atau BPKB yang tahu seluk beluk mana desa vokasi yang bagus dan mana desa vokasi yang tidak layak dikunjungi. Karena biasanya desa vokasi merupakan binaan dari lembaga yang menaungi kegiatan pendidikan non formal. Saya rasa di daerah lain di Indonesia juga ada lembaga serupa termasuk tingkat kabupaten.

Bisa juga cari-cari info melalui internet. Pasti banyak kok informasi tentang berbagai desa vokasi di Indonesia.

Ok, tertarik berkunjung ke berbagai desa vokasi yang ada di Indonesia. Dijamin tidak kalah dengan desa wisata yang sudah menjamur dimana-mana

NB : 
Jangan lupa cari informasi dulu diinternet. Kalau perlu ajak saya juga nggak apa-apa. Hehehe... Oh ya, tulisan ini sebenarnya saya tulis tahun 2014, bisa jadi beberapa desa vokasi yang saya tulis sudah lebih baik kondisinya sekarang.

Rabu, 01 Februari 2017

TAMAN GILI KERTAGOSA


Bali memang super duper terkenal dengan pantainya. Tapi kalau ke Bali jangan lupa ke Kertagosa, terutama kamu yang suka sejarah. Hitung-hitung liburan sambil belajar, kan? 

Kertagosa adalah komplek taman yang mana dimasa kerajaan dulu merupakan pusat dari Kerajaan Klungkung. Lokasinya di Semarapura, ibu kota Kabupaten Klungkung. Perjalanan dari Denpasar sekitar 2,5 jam dengan menggunakan motor. Itupun kalau tidak macet dan kesasar seperti saya. Bisa-bisa waktu empat jam habis di jalan. Hehehe...

Windi Narsis Berlatar Bangunan Bale (Balai)
Sebenarnya saya dan teman saya – Windi namanya – tidak bermaksud pergi ke Kertagosa. Niat awal kami adalah ingin makan kelepon khas yang kapan hari pernah kami cicipi di kantor tempat kami magang. Berbekal sobekan kertas yang kami dapat dari bungkus kelepon akhirnya kami berangkat menuju Gianyar buat beli kelepon. 

Setelah Kelepon didapat, kami menikmatinya di lapangan apa gitu, saya lupa namanya, pokoknya itu lapangan ada di pusat kota Gianyar. Seratus meter kebarat dari lapangan itu ada pasar pokoknya. Kata orang-orang sekitar lapangan tersebut sering dipakai konser artis-artis dari Jakarta. 

Setelah puas makan kelepon kita jadi bingung mau ngapain. Daripada jauh-jauh ke Gianyar hanya buat beli kelepon akhirnya si Windi saya suruh cari info tempat wisata disekitar situ, sementara saya tanya ibu-ibu yang lagi jagain anaknya main ayunan. 

Si Windi akhirnya nemu, ya Kertagosa itu. Kata informasi yang Windi dapat dari internet itu taman jaraknya sudah dekat dengan lapangan tempat kami pesta kelepon. Akhirnya kami berangkat ke tempat yang namanya Kertagosa itu. Di atas motor Windi bacain informasi tentang Kertagosa. Katanya Kertagosa adalah bekas pusat pemerintahan Kerajaan Klungkung. Ehm, okelah tidak masalah. Itung-itung tambah pengetahuan baru. 

Dekat memang dekat bro kalau tahu jalannya. Lha kami ini petualang Bonek. Kesasarlah kami, sampai-sampai kami blusukan ke kampung muslim lho. Tapi akhirnya sampai juga kok. 

Masuknya bayar Rp 15.000,-. Di tiket masuknya sih tertera kalau tiket berlaku juga untuk Monumen Puputan Klungkung yang ada di depan Taman Gili Kertagosa dan museum yang ada di sebelah barat Taman Gili. Tapi ternyata muda-mudi bisa bebas keluar masuk tuh ke Monumen Puputan Klungkung. Oh ya, bagi yang bercelana pendek diharuskan memakai sarung Bali. Ternyata Kertagosa ini disakralkan lho bro, saya sempat merinding waktu itu. Tapi sudah tidak ada lagi buat rasa takut, sudah kepalang tanggung. Untungya waktu itu saya dan Windi memang pakai celana, jadi tidak perlu sewa sarung Bali. Hemat Rp 15.000,-. Hehehe... 

Saya kira disana banyak bunganya, karena di internet kan disebutnya Taman, tapi ternyata tidak. Memang sih ada bunga, tapi tidak banyak dan bergerombol-gerombol seperti bunga-bunga di taman kota pada umumnya. 

Ada balai (bale) yang bagus banget, tidak luas sih, tapi bentuknya seperti candi berundak dan dikeliling kolam. Jadi kalau mau ke balai tadi harus melewati jembatan batu bata merah yang juga menjadi bagian dari balai tadi. Saya sampai puas selfie di jembatan itu. 

"Panggung" berlatar Gapura
Balainya nggak kalah antik. Di langit-langit banyak lukisan yang menceritakan kisah-kisah Kerajaan Klungkung jaman dulu, termasuk kegunaan dari balai tersebut. Setelah itu kami berkeliling-keliling taman. Disebelah selatan ada semacam “panggung” terbuka, tapi bukan buat saya konser lho. Itu “panggung” berlatar gapura tinggi berwarna merah. 

Dari penjelasan guide, itu “panggung” dulunya digunakan untuk mengumumkan sesuatu dan menghukum para penjahat. Haduh, saya sampai ngilu mendengar penjelasannya. 

“Tuh, makanya di lantainya ada bercak-bercak kemerahan. Itu darah penjahat yang dulu dihukum di sini," begitu kata guidenya

 Habis itu kami diajak masuk ke museum. Museumnya sih sebenarnya biasa, sama seperti museum-museum pada umumnya. Tapi yang bikin spesial dan membuat saya seneng banget karena di dalam museum itu ada barong dan tiruan leak bro. Tapi sayang saya tidak boleh foto dengan background makhluk khas Bali itu. 

“Jangan foto di situ ya, mas. Nanti ngikuti masnya lho Leak sama Barongnya.” 

Yah, daripada saya pulang ke Jawa dikintilin sama makhluk-makhluk sanggar itu saya turutin saja apa kata guide nya. 

Puas jalan-jalan, dapat ilmu dan selfie di berbagai tempat kami duduk-duduk di lapangan kecil depan museum sambil menikmati sisa kelepon yang tadi tidak kami habiskan. Sumpah kayak orang pacaran. Coba kalau si Windi itu pacar saya, pasti udah saya suapin kelepon kayak di film India. 

So, kalau kamu memang suka sejarah. Coba datang ke tempat ini. Kalau perlu bawa pacar, biar nggak plonga plongo di tempat ini.

Rabu, 25 Januari 2017

BONEK GOES TO BALI

Orang ke Bali untuk liburan, saya tidak. Saya ke Bali dalam rangka Praktek Kerja Lapangan atau PKL. Istilah kerennya magang. Tapi selagi di Bali, kenapa tidak sekalian buat liburan.  

Saya berangakat berdelapan dengan teman kuliah saya. Ada dua gelombang keberangkatan. Gelombang pertama datang tiga hari lebih awal untuk survei tempat tinggal dan berbagai lokasi yang mendukung kehidupan kami selama dua bulan di Bali. Gelombang kedua datang tiga hari setelah gelombang pertama. Membawa barang-barang dan seluruh perlengkapan termasuk pakaian, laptop, sepatu, alat mandi dan seluruh kebutuhan lainnya.


Istirahat di Probolinggo 
(Fotografer : Galuh R.)
Saya ikut gelombang pertama. Sialnya, saya dan tiga teman saya lainnya berangkat naik motor (alamat ambeien saya bakalan kambuh saat tiba di Bali nanti) karena keberangkatan ini sangat sangat sangat mendadak sekali. 

Dan karena dadakan itu pula, saya berangkat naik motor dengan pakai kaos oblong butut yang sudah satu minggu tidak dicuci, celana kain belel warna cokelat, jaket busuk dan sandal jepit biru yang dibeli diperjalanan karena semua barang-barang saya sudah saya masukkan dalam koper yang ikut berangkat bersama teman-teman gelombang dua.

Dasar memang gerombolan mahasiswa kere, kami berangkat membawa nasi sendiri dari rumah, sampai-sampai air pun kami bawa dari rumah. Empat kali kami berhenti untuk istirahat dan makan. Probolinggo, Banyuwangi, Jembrana dan Tabanan.

Saat di Tabanan kami istirahat di sebuah warung kecil pinggir jalan. Buset itu warung dikelilingi hutan bro. Saya takut sekali kalau-kalau dari arah tertentu muncul leak atau semacamnya. Tapi untunglah semua berjalan lancar. Tidak ada satu dedemit pun yang hadir diantara kami.

Di warung kami bertemu seorang pria. Tubuhnya besar, bertato, kepala agak plontos, dan bisa sedikit Bahasa Jawa. Itu orang senang sekali bercerita tentang dirinya, tapi giliran kami yang cerita orangnya jadi melongo melihat kenekatan kami. Apalagi setelah melihat saya pakai sandal jepit.


Jadi Kere di Tabanan 
(Fotografer : Is H.)
“Edan semua sampean ini. Bonek sejati,” ucapnya mendengar cerita kami. Wah saya kok malah bangga yah dibilang edan seperti itu. Wkwkwkwk….

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Tinggal satu jam sebelum sampai Denpasar, kami berjalan pelan-pelan saja. Lha kok sialnya, sebelum masuk Kota Denpasar itu jalanan ditutup karena ada upacara. Jadilah kami muter-muter cari jalan alternatif. Kesasar kesana kemari, masuk kampung-kampung (di Bali namanya Banjar) sampai muterin jalan yang sama berkali-kali.

Bertanya ke orang dipinggir jalan malah kesasar. Ampun deh. Tapi akhirnya ketemu juga dengan dewa penyelamat, seorang laki-laki judes yang menunjukkan arah menuju Jalan Gurita Raya Sesetan, Denpasar Selatan.

Tapi sesampainya di TKP tidak membuat kami istirahat. Ternyata orang yang mengurus asrama belum datang. Kami luntang lantung macam gelandangan didepan lobi kantor sambil digongongin anjing. Mungkin kita dikira mau maling oleh si anjing.

Jam sepuluh malam barulah kami bisa istirahat sementara di asrama kantor tempat kami magang. Jangan ditanya lagi soal capeknya, tak terbayang, kaki remuk, punggung soak dan ambeien saya langsung kambuh. Saya dan kawan-kawan juga heran mengapa kami bisa nekat seperti itu, mungkin karena faktor keuangan dan tuntutan memenuhi tugas mata kuliah. #klasiksekali 

Tapi okelah, itu terbayar dengan tinggal dua bulan di Bali.

Bali… I’m coming.

Senin, 14 November 2016

NGIDAM SUSU SAPI

Dari dulu saya suka banget dengan susu sapi. Terutama yang masih gurih dan belum ditambah gula. Ampun, enak banget bro. Apalagi kalau masih hangat dan minumnya di tempat dingin. Hmm, surga dunia lah pokoknya.

Sayangnya di tempat saya jarang banget ada peternakan sapi, jadi kalau lagi ngiler minum susu sapi saya harus ke Pacet atau nitip saudara yang kebetulan tinggal di daerah Pacet.

Yummy!!!

Ngomong-ngomong, Pacet itu salah satu daerah di Mojokerto yang lumayan adem. Kalau Jakarta punya Puncak Bogor buat ngademin otak diakhir pekan, nah Surabaya punya Pacet buat refreshing. Karena daerahnya dingin makanya disana banyak banget peternakan sapi perah. Ada koperasi susunya pula.

Bukannya melebih-lebihkan ya bro, tapi saya rasa susu sapi Pacet termasuk salah satu susu sapi yang menurut saya gurih banget. Dulu waktu kuliah pernah cobain beli susu di tukang penjual STMJ (Susu yang dicampur telur, madu dan jahe), tapi rasanya amplang (tawar) dan nggak ada gurih-gurihnya sama sekali.

Pernah juga waktu Praktek Kerja Lapangan cobain susu sapi di pinggir jalan. Rasanya sih memang gurih tapi kok aromanya nggak sedap. Meskipun begitu, apapun rasa susunya selagi belum basi tetap saya minum. Lha wong memang doyan bro. Wkwkwk…

Warung Mbak Yuni Tampak Depan
Nah, beberapa hari lalu keponakan saya kasih saya susu sapi. Asli dari Pacet. Langsung saya minum sendiri itu susu. Sialnya keponakan saya itu ngasihnya cuma segelas doang, harusnya satu botol gitu donk (Hahaha… Udah dikasih, protes lagi J).

Akhirnya pas Hari Minggu dan tidak ada kegiatan apa-apa saya pergi meluncur ke Pacet. Karena saya ke Pacetnya agak siang jadi koperasi susunya sudah tutup (koperasi susunya buka pagi hari dan sore hari). Jadi saya langsung menuju Pasar Pacet yang ada di belakang Terminal Pacet. Di pasar itu ada beberapa deretan warung yang menjual susu sapi. Warung-warung itu ambil susu sapi dari koperasi susu. Jadi stoknya selalu ada. Dan senengnya, warung-warung itu bukanya dua puluh empat jam nonstop. Kapanpun kalau pingin susu sapi asli bisa datang ke warung-warung itu.

Semua warungnya sama. Harganya juga relatif sama. Tapi saya langsung parkir di depan warung Mbak Yuni. Sejak saya SMA dulu warung Mbak Yuni ini selalu jadi tujuan utama kalau cari susu sapi. Dulu sih warungnya masih super duper sederhana gitu, tapi sekarang sudah agak mendingan. Kebetulan waktu itu saya juga lapar banget, jadi saya sekalian saja pesan nasi pecel.

Eh! Si Buku Mau Narsis
Aduh bro, itu momen memang surga banget lah pokoknya. Sudah udaranya dingin, minumnya susu hangat, pecelnya pedes luar biasa, nasinya panas dan mbak penjaga warungnya cantik banget (hahahaha… yang terakhir bercanda bro, penjaga warungnya ibu-ibu paruh baya kok.

Pas lagi enak-enak menikmati makanan, eh lha kok ndilalah datang sepasang muda mudi yang duduk dibangku sebelah. Saya kira mereka mau minta tanda tangan atau foto gitu, eh ternyata mereka mau pacaran di sebelah saya. Aduh mbok ya jangan disebelah saya begitu toh, saya yang jomblo ini kan ngenes banget bro. Sumpah makan saya jadi agak gimana gitu. Kalau yang tadinya semangat setelah mereka datang agak lemes ngunyahnya. Daripada saya terganggu akhirnya saya pindah tempat duduk.

Eh mereka makin mesra saja pacarannya, kayaknya mereka niat banget dan tahu kalau saya ini jomblo ngenes yang minggu-minggu kelayapan sendirian. Tapi lama-lama saya cuekin saja lah, susu sapi saya sudah menunggu untuk diseruput.

Belum cukup satu gelas besar, akhirnya saya minta si ibu penjual untuk bungkusin susu sapi. Saya juga heran sendiri mengapa sampai suka banget dengan susu sapi. Mungkin ini efek karena dulu waktu kecil minumnya susu formula. Jadi gedenya bisa suka banget sama susu sapi. Wkwkwkwk….

Ah terserahlah…

Yang penting hari ini sudah menikmati rezeki Tuhan berupa susu sapi tadi. Coba punya sapi sendiri, pasti tiap hari itu sapi protes karena susunya saya ambil tiap hari.
 

Blogger news

Blogroll

About